Monthly Archives: May 2014

[FANFICTION WINNER #1] When the Broken Dreams Meet by Lionissa Ratnawati

Standard

When the Broken Dreams Meet – blackmeowr (April 2014)

 

Characters:

Kim Jong Kook –  Song Jihyo – Yoon Eunhye – Lee Minki – Ha Donghoon – OCs

Genre/Length/Rating:

Slice of life;friendship;family/ Oneshot / T

 

 

“Di setiap sisi di dunia ini, hanya ada dua keadaan yang akan kau temui di kehidupanmu. Atas dan bawah, kau tak dapat memilih bagian yang kau inginkan karena kau harus menghadapi keduanya. Tidak peduli jika kau menyukainya atau membencinya, hidup akan membuatmu harus menerimanya.”

 

“Aku pulang,” Suara seorang wanita memecah keheningan di dalam sebuah ruang tamu yang sepi. Suara tersebut terdengar sangat lemah dan penuh dengan rasa lelah, sehingga, bisa di tebak bahwa ia baru saja melewati sebuah hari yang melelahkan. “Ah, selamat datang! Bagaimana jika kita makan bersama setelah kau bersih-bersih?” Pria itu keluar dari dapur sambil menyapanya dengan senyuman terbaiknya. Ia baru saja selesai memasak sesuatu untuk makan malam mereka berdua hari ini. Hal ini bukanlah sesuatu yang spesial bagi sang wanita karena ia sering di jamu untuk acara makan yang lebih mewah. Tetapi setidaknya, ini adalah hal yang spesial untuk ukuran makanan buatan rumah.

Wanita itu tidak menjawabnya langsung. Ia langsung meletakkan tas kerjanya ke sofa berwarna coklat gelap yang berada di sebelahnya. “Aku sudah makan malam bersama rekan kerjaku tadi,” Setelah mengatakan itu, ia langsung bergegas menuju kamar mandi.  Tidak ada kata ‘terima kasih’ ataupun ‘maaf’ terucap dari mulutnya, yang ada hanyalah keheningan yang kembali memenuhi ruangan. “Hal ini pasti terjadi lagi,” Ia menghela nafas dan berjalan ke arah tombol lampu yang ada di ruang tersebut untuk mematikan lampunya. Ia tahu bahwa setelah istrinya itu selesai mandi dan ia selesai menghabiskan makan malamnya, tak akan ada waktu yang mereka habiskan bersama di ruangan itu. Kemudian, ia mengambil tas kerja wanita itu lalu membawanya ke ruang kerja kecil yang berada di lantai dua rumah mereka.

Setelah menyelesaikan makan malamnya sendirian, ia biasanya akan melihat apakah istrinya sudah tertidur lebih dahulu atau tidak.

Langkah kakinya membawa dirinya menuju ruang tidur mereka yang berada di lantai dua. Diam-diam, ia membuka pintu kamar tersebut tanpa membuat kebisingan, tetapi apalah yang ia temukan. Kamar yang ia lihat itu sepi dan tidak ada orang sama sekali. Lelaki itu memutuskan untuk tidur lebih dahulu, tetapi lagi-lagi, ia mendengar suara seseorang berbicara dan tertawa yang berasal dari ruang sebelah kamar tidur tersebut, yaitu ruang kerja. Tepat saat ia masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya, ia mendengar suara pintu terbuka sehingga itu menghentikan langkahnya untuk menuju ranjang.

‘Aku tahu! Tapi itu bukan hal mudah yang bisa di selesaikan secara sepihak!’

Hanya dengan pintu yang memisahkan mereka, pria itu mendengarkan pembicaraan istrinya dengan seseorang melalui telepon. ‘Jangan di bicarakan di sini, bisa-bisa pembicaraan kita terlalu panjang,’ Istrinya tertawa dengan bebas. ‘Kau mau bertemu denganku sekarang? Jangan bercanda! Itu tidak mungkin,’

Ya, ya. Aku tahu. Tenang saja, lelaki itu pasti akan membiarkanku pergi sampai matahari terbit saat aku sampai rumah lagi!’  Ia tertawa lagi. Pria itu tahu bahwa orang yang di maksud dalam pembicaraan itu adalah dirinya sendiri. ‘Tunggu, aku akan menanyakannya,’

Pria itu kembali melihat jam yang tergantung di tembok tepat di atas kepala ranjang ruangan itu. Ini hampir jam 12 malam, pikirnya.

“Hei, Jongkook-ah, apa kau disana?” Wanita itu memanggil suaminya sambil mengetuk pintu kamarnya. “Ya, aku disini. Ada apa, Eunhye?” Ia terduduk sambil menyandarkan tubuhnya di pintu yang ada di belakangnya. Ia sama sekali tak ingin melihat wajah wanita yang merupakan istrinya itu. Kemarahan yang tersembunyi di balik wajahnya yang selalu memancarkan kebahagiaan, tak diinginkan olehnya untuk di lihat oleh istrinya. “Bolehkah aku pergi sekarang? Sebentar saja… Aku janji jika aku akan kembali secepatnya,”

“Kumohon, jangan lakukan itu,”

“Kenapa?”

“Tolong pikirkan kesehatanmu, sayang. Kau akan bekerja besok pagi, ‘kan? Aku tidak mau melihatmu terlalu lelah besok pagi, apalagi di kantor. Tolong pikirkan juga kesehatan–“

“Terima kasih atas nasehatnya,” Daripada mendengar suara pintu kamar dibuka olehnya, pria itu malah mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari tempatnya berada. Ia tahu bahwa di balik pintu ini, wanita itu tidak melakukan hal yang telah di beritahu oleh suaminya. Ia tetap bersikeras untuk pergi.

Pria itu menghela nafas dan berjalan menuju ranjang besar yang entah mengapa terasa begitu dingin malam ini. “Kau tak pernah mengerti kata-kataku,”

 “Kau tak pernah mengerti… hal yang telah aku lakukan demi dirimu,”

 

+

 

Pagi hari telah datang. Matahari belum begitu tinggi, tetapi sinarnya cukup terang untuk membangunkannya. Tak ada alarm yang berbunyi berisik ataupun suara seseorang yang dapat membangunkannya. Pria itu membuka kedua matanya yang kecil perlahan-lahan selagi berharap bahwa seseorang akan menyapanya di pagi hari. Tetapi, hal tersebut bagaikan menggantungkan harapan di sebuah bintang jatuh, sangat tidak mungkin untuk terjadi. Pria itu melihat bantal dan sisi ranjang yang tidak menjadi tempat tidurnya, bagian tersebut sangat rapi, seakan-akan tidak di sentuh sebelumnya. Dari hal itu, ia mengetahui bahwa istrinya tidak tertidur disini tad malam

Sudah jam delapan? Ia pasti sudah pergi bekerja, pikirnya sambil melihat jam yang ada di dinding.

Tiba-tiba, sebuah telepon berbunyi dari suatu tempat di rumah yang sepi tersebut. Pria itu langsung bergegas berlari untuk menemukan sumber suaranya dan ia menemukannya dengan mudah di sofa yang berada di ruang tamu. Sumber suara itu tak lain berasal dari telepon genggam milik istrinya yang tertinggal di sana, ia yakin bahwa pasti istrinya itu terburu-buru tadi.

Hidup di kehidupan yang mewah dan memiliki istri seorang wanita bisnis bukanlah suatu harga pasti bahwa ia bisa menguasai teknologi masa ini dengan mudah. Dengan susah payah, ia mencoba untuk menjawab telepon itu. Beruntunglah dirinya, penelepon yang menelepon ke telepon genggam itu menunggu cukup lama sehingga memberi kesempatan bagi dirinya untuk mengerti benda itu dan menjawab teleponnya.

Halo?’ Suara seorang pria lain keluar dari sana.

“Halo. Maaf bahwa pemilik telepon ini meninggalkan teleponnya di rumah secara ceroboh di rumah. Tapi, bolehkah saya mengetahui siapakah anda ini?” Ia bertanya demikian karena layar telepon genggam itu hanya menunjukkan deretan angka yang berarti bahwa nomor tersebut tidak di ketahui sebelumnya. ‘Saya adalah wakil direktur di kantor tempat bekerja Yoon Eunhye, pemilik telepon genggam itu. Nama saya Lee Minki… dan anda?’

“Ah, suatu kehormatan untuk menerima telepon secara langsung dari seorang wakil direktur. Saya sendiri adalah suaminya, Kim Jongkook,”

Pria bernama Lee Minki itu tidak langsung menjawab perkataan dari Jongkook, seakan-akan ia kaget atas identitas penerima teleponnya. ‘Oh.. ya, saya pikir bahwa istri anda telah sampai kantor saat ini. Saya akan mengatakan padanya bahwa ia telah meninggalkan telepon genggamnya di rumah…’ Nada suara pria itu berubah dan jawabannya pun tak masuk akal, cara menjawabnya penuh dengan kecanggungan, berbeda sebelum Jongkook mengatakan bahwa ia adalah suami dari Eunhye. Semua itu menunjukkan seakan-akan dia takut berbicara kepada dirinya. “Anda tidak perlu melakukannya. Biarkan ia mengetahuinya sendiri. Bisakah anda melakukannya, pak?”

‘Tak masalah. Anda tak perlu khawatir. Terima kasih dan maaf telah menganggu anda sepagi ini,’

“Terima kasih kembali,” Pembicaraan mereka berakhir setelah itu. Setelah menjawabnya, penelepon itu langsung menutup teleponnya.

Ia merasa aneh dan bingung dengan perubahan tingkah laku pria itu secara drastis, seperti sesuatu sedang disembunyikan di balik dirinya. Langsung setelah itu, ia melakukan pemeriksaan pada telepon genggam milik istrinya itu. Dengan hati-hati, pria itu melihat inbox yang dimiliki telepon itu dan ia menemukan banyak sekali pesan singkat yang dikirim dari nomor yang baru saja meneleponnya dan teman-temannya.

Rasa penasaran yang secara tiba-tiba datang membawanya untuk melanjutkan pemeriksaan dan membawanya menuju suatu fakta yang tersembunyi dengan rapi serta baik di balik dirinya oleh istrinya itu.

 

+

 

‘Bisakah kau membawakan handphone milikku? Aku sangat membutuhkannya dan keadaan genting bisa terjadi kapan saja!’

Setelah sekitar satu jam setelah pria itu menerima telepon dari wakil direktur kantor tempat istrinya bekerja, ia menerima telepon dari istrinya yang baru saja menyadari bahwa telepon genggamnya tertinggal di rumah. Waktu dimana istrinya akan sampai dirumah kembali masih begitu lama, padahal, ia sudah sangat menginginkan untuk berbicara empat mata dengan wanita itu. Ia bersyukur bahwa ia masih bisa mengontrol amarahnya untuk membicarakan hal buruk yang baru saja ia temukan.

‘Hei, apakah kau disana? Apakah kau tidak mendengarkanku?’

“Aku selalu mendengarkanmu, telingaku selalu ada disini untuk mendengarkanmu walaupun pikiranku sedang melayang jauh,”

‘Baiklah. Jadi, jika kau mendengarkanku sekarang, bawalah benda itu ke kantorku!’ Ia langsung menutup pembicaraan mereka dengan kasar.

Ia meletakkan benda itu di meja yang berada di depan sofa yang sedang ia duduki lalu mengambil telepon genggam miliknya yang ia simpan di kantong celananya. Ia ingat bahwa di hari-hari awal pernikahan mereka, istrinya selalu komplain mengapa ia selalu menggunakan telepon genggam miliknya yang sudah tua dan ketinggalan jaman daripada telepon genggam yang ia beli untuk mereka berdua. Alasannya selalu sama,’benda ini sulit sekali untuk di pahami! Tapi tenang saja, perbedaan itu baik.’

Ia menyalakan telepon genggam itu dan menemukan sebuah pesan dari salah satu junior-nya saat masa kuliah dulu. Hyung, ayo bertemu siang ini! Aku akan mentraktirmu makan siang!’

Ia membalasnya dengan singkat, ‘Tentu saja, mari kita bertemu. Jangan terlambat!’

Sebelum ia meninggalkan rumah dan pergi menuju kantor serta pertemuannya dengan teman lamanya itu, ia harus merapikan rumah terlebih dahulu. Ini juga merupakan kebiasaannya di pagi hari karena tidak adanya pembantu di rumah tersebut dan merupakan salah satu kewajibannya sebagai suami yang bekerja  dirumah. Mulai dari mencuci piring sampai memperbaiki mobil, hal tersebut adalah hal kecil yang biasa dilakukannya. Ia menjadi seorang suami yang bekerja di rumah bukan karena ia tidak memiliki pekerjaan tetap seperti yang biasa di lakukan oleh orang-orang, tetapi dia tak mengijinkan dirinya untuk bekerja formal seperti dirinya setelah pernikan mereka. “Semangat, Kookjong-ah. Kau bisa melakukannya!”

 

+

 

Setelah terjebak dalam kemacetan yang membosankan, ia akhirnya sampai di kantor tempat istrinya bekerja. Ia bersyukur bahwa ia tidak datang di saat yang berdekatan dengan jam makan siang karena kemacetan bisa lebih parah. Pria itu langsung memasuki lobi utama tempat dimana adanya resepsionis. Ia juga menggunakan sebuah kacamata sebagai penyamarannya yang sebenarnya tak begitu di butuhkannya. “Selamat pagi, tuan,” Para resepsionis menyapanya dengan sopan.

“Selamat pagi. Bisakah saya bertemu dengan Yoon Eunhye-ssisekarang?” Ia menekan kata ‘sekarang’ untuk menunjukkan betapa pentingnya pertemuan mereka sekarang.

“Bisakah saya tahu kepentingan apa yang anda punya dan siapa anda ini?”

“Saya suaminya dan datang untuk memberikan benda yang tertinggal,”

Mata si resepsionis tersebut membesar di saat pria ini mengatakan hubungannya dengan Eunhye dan hal ini makin menambah kejanggalan baginya mengenai kehidupan kantor istrinya yang masih merupakan hal buram dan tak jelas baginya. “Saya akan memanggilnya. Tolong tunggu sebentar, tuan,” Ia langsung meneleponnya. “Tuan, Eunhye-ssi berkata bahwa ia akan segera datang,”

“Terima kasih,” Ia menundukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum kepada resepsionis tersebut.

Jongkook menunggu wanita itu sambil menyandarkan tubuhnya sedikit ke sebuah pilar. Dari sudut pandangnya, kantornya itu sangat besar dan mewah. Tak lama setelah itu, sebuah lift turun dan sampai di lantai paling bawah, tempat dimana pria tersebut menunggu. Sesosok wanita keluar dari lift tersebut dengan terburu-buru. “Hei!” Ia menepuk pundak pria itu.

“Oh, Eunhye,” Ia berbalik badan dan menemukan Eunhye sudah berada di belakang dirinya. “Ini, maaf membuatmu menunggu,” Jongkook mengambil benda yang ditunggu oleh istrinya itu dari kantong celananya. “Terima kasih,” Tangan wanita itu mencoba mengambilnya, tetapi pria itu tidak membiarkan ia untuk mengambilnya dengan mudah. “Jongkook-ah, lepaskan! Aku sedang ada meeting yang aku tinggal demi mengambil benda ini!” Di saat ia mengatakan bahwa ia sedang berada di saat yang penting, ia membiarkan benda itu diambilnya. Tanpa ragu-ragu dan berbalik badan lagi, ia langsung berlari menuju lift dengan cepat. Pria itu hanya bisa menghela nafas untuk kelakuan istrinya kepada dirinya.

Ia langsung meninggalkan kantor segera setelah ‘misi’nya selesai.

Di belakang dirinya, seorang resepsionis sedang berbicara dengan temannya yang baru datang untuk berganti shift. “Siapa orang yang tadi baru saja datang itu? Dia sangan tampan!”

“Dia bilang bahwa dia itu suami dari Eunhye-ssi,”

“Eunhye-ssi? Sayang sekali bahwa dia mempunyai istri seperti dia…”

“Ya, aku tahu. Ia bahkan masih berbicara sopan sekali padanya walaupun ia membalas perkataannya secara kasar,” Resepsionis yang tadi berbicara dengan pria itu merasa kasihan padanya yang tetap berlaku baik walaupun tanpa balasan yang baik dari istrinya.

 

+

 

“Ha Donghoon!” Pria itu memanggil teman lamanya dengan lantang. “Hyung!”

Temannya itu sedikit lebih muda darinya. Wajahnya agak berantakan karena ia belum merapikan janggut dan kumisnya ditambah lagi dengan kacamata hitam yang digunakannya, memberi kesan bahwa ia adalah orang yang berantakan dan jahat. “Kau harus sering-sering membersihkan wajahmu, Donghoon,” Hal itu adalah hal pertama yang terlintas di pikirannya. “Ya, hyung. Oh iya, apa kabarmu?”

Baik Donghoon maupun Jongkook, mereka berdua sama-sama hidup sebagai seorang suami yang bekerja di rumah untuk menggantikan peran istri mereka masing-masing. Hanya saja bedanya adalah pada kebahagian mereka masing-masing. Walaupun bekerja, istri dari Donghoon masih sering pulang ke rumah dan menemani dirinya untuk mengurusi anak mereka. “Sedang ada banyak masalah menghampiriku,”

“Ah, maaf karena aku bertanya hal itu, hyung. Bagaimana dengan dirinya?” Jongkook hanya menganggukkan kepalanya. Di saat yang sama, temannya itu menyadari bahwa pertanyaan itu adalah sesuatu yang sensitif baginya. Di balik kelembutan dan ketenangan yang di tunjukkan di wajahnya, tersembunyi beban berat yang selalu di bawanya dan dapat selalu terasa saat seseorang membicarakan mengenai keluarga kecilnya. “Hyung, mari jangan berbicara tentang istri kita. Anggap saja jika kita baru lulus dari kuliah! Kita bebas!” Donghoon memulai kebiasaannya untuk berbicara sesuatu yang aneh tetapi mampu membuat temannya yang lebih tua itu untuk tertawa. “Tentu saja. Kita harus mengenang masa-masa kejayaan saat kita masih sendiri,”

Pria itu merangkul temannya sambil berjalan bersama, berharap bahwa kebahagiaan yang selalu di tebarkannya dapat menyembuhkan sedikit luka yang tak terlihat yang sedang ia rasakannya itu. “Semangatlah, hyung!” Donghoon mengepalkan dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah langit menunjukkan betapa semangat dirinya.

 

+

 

Malam kembali datang dan langit kembali gelap

“Kau tahu betapa membosankannya hidup bersama dirimu, Jongkook-ssi?”

Sang pria hanya terduduk di ranjang yang berada di kamar tidur utama sementara sang wanita berjalan mondar-mandir seperti setrika yang sedang digunakan. Akhirnya ia membicarakan mengenai semua yang ia sembunyikan di balik suaminya itu selama nyaris 5 bulan dan terbongkar dengan mudah hanya karena kesalahan kecil. “Aku mengerti apa kata-katamu. Tetapi, apa kau sama sekali tidak mengerti perasaanku?” Mata mereka saling bertemu dan memancarkan amarah. Sang pria yang tenang akhirnya membuka dirinya yang sebenarnya. “Apa kau tidak menyadari betapa banyak waktu yang telah aku habiskan demi menghadapimu dengan tenang?”

Wanita itu berbalik badan dan mencoba untuk kabur dari pembicaraan mereka, tetapi tangannya digenggam erat oleh lelaki itu. Kali ini, ia tidak akan melepaskan tangannya walaupun ia melemparkan alasan seperti apapun. “Aku tidak akan pernah peduli dan bahkan memikirkannya,”

“Apa aku ini hanya seperti pembantu bagimu, Eunhye-ssi?”

Nada suaranya berubah. Suaranya terdengar lebih dalam dan sedikit lebih berat tetapi tidak begitu mengekspresikan amarah. Ia mengeluarkan suaranya yang biasa ia gunakan untuk berbicara mengenai sesuatu yang menganggu dirinya. Jujur saja, sepanjang pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Jongkook menggunakan nada suara seperti ini dan bahkan marah saja, Eunhye sudah lupa kapan terakhir kali ia dimarahi oleh suaminya itu. “Jawab aku, apa aku pembantumu saja? Atau bahkan, aku ini sudah tidak ada apa-apa laginya bagimu?”

“Ya, kau sudah tidak berarti apa-apa bagiku,”

“Tapi jika aku tidak berarti apa-apa, apa ini?”

Pria itu menunjuk perut wanita itu yang membesar. Ya, wanita itu sedang mengandung anak pertama mereka. Delapan bulan sudah terlewati. “Ini… ini hanyalah penganggu sejak awal,” Ia tidak berpikir panjang mengenai kata-katanya.

“Jika anak kita lahir, kita akan mengurusnya sebentar. Tapi setelah itu, kita harus bercerai,” Mata kecil pria itu membesar, ia kaget mendengar kata-kata itu. Ia sadar bahwa hubungan mereka sudah sangat parah dan tidak sehat lagi, tapi bukankah perceraian adalah akhir dari segalanya? “Kau tidak ingin aku muncul lagi di depan matamu, ‘kan? Kau tidak mau di ganggu oleh istri yang menyebalkan sepertiku, ‘kan?” Wanita itu menunjukkan senyumnya yang terasa begitu pahit. “Lebih baik kita bercerai saja, aku tidak bisa bertahan dengan semua kepalsuan ini lebih lama lagi,”

“Kau selingkuh di belakangku, ‘kan?”

“Ya. Kau terlalu membosankan di rumah, jadi… aku membutuhkan seseorang yang dapat menggantikanmu,”

Semua pertanyaan terjawab sudah. Tak ada lagi ketidakjelasan ataupun kebingungan yang ia rasa. Ia akhirnya mendapat semua jawaban yang ia perlukan untuk disusun menjadi sebuah pernyataan yang jelas. Saat ia memeriksa pesan yang ada di dalam telepon genggam milik Eunhye, ia melihat banyak sekali teman-temannya yang menyindirnya karena masih bertahan dengan suaminya padahal ia sering berjalan bersama wakil direkturnya dan di saat yang sama, sang wakil direktur sendiri sering sekali mengajaknya keluar hingga larut malam. Tak salah jika Eunhye sering pulang malam dan pergi lagi walaupun dia baru sampai di rumah. Ditambah lagi saat ia membawakan telepon genggam milik Eunhye ke kantornya, para resepsionis terlihat begitu kaget saat mendengar bahwa ia adalah suami dari wanita itu dan kejanggalan kata-kata dari istrinya. Ia tak akan mungkin diijinkan keluar saat berada di tengah-tengah meeting.

Ia sadar, semua perhatian dan kebaikan yang diberikan olehnya untuk istrinya itu tak akan pernah di balas setimpal. Ia malah mendapat rasa sakit yang seharusnya tak perlu ia rasakan.

“Aku… menerima penawaranmu, Eunhye-ssi. Kita sepertinya memang sudah harus bercerai,”

 

+

 

Bayi perempuan yang berada di pelukannya itu merupakan bayi perempuan yang prematur, bayi yang lahir lebih cepat dari perkiraan. Tubuhnya lebih kecil dan lebih ringan daripada bayi pada umumnya. Malaikat kecil ini masih sempat merasakan kasih sayang kedua orang tuanya secara lengkap walaupun hanya sebentar.

Beberapa minggu telah berlalu sejak kedatangan malaikat kecil ini di dunia dan persetujuan di antara kedua orang tua mereka telah terjadi. Jongkook sendiri tak mau lagi diganggu dengan masalah perceraian dirinya dengan Eunhye sehingga ia meninggalkan kertas yang berisi permohonan perceraian yang sudah lengkap dengan tanda tangannya pada istrinya itu. Pria ini juga mengambil hak asuh anaknya karena ia tak berani membiarkan wanita yang telah mengecewakannya itu untuk mengurus anak ini dan hal ini juga disetujui oleh Eunhye. Ia tak mau mengurus anak karena ia yakin bahwa ia akan kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus anak.

Mata kecil milik pria tersebut mengamati sekelilingnya dan mendapati bahwa bus yang sedang ia naiki begitu sepi, tak banyak orang yang menaiki bus menuju Anyang itu. Ia mendapati hanya ada seorang lelaki tua yang duduk di kursi paling belakang serta seorang perempuan yang duduk di depannya. Ia sempat melihat wajah perempuan itu saat perempuan tersebut menaiki busnya, ia memiliki paras yang cantik, tetapi sepertinya ia menyimpan begitu banyak beban di pikirannya karena wajahnya terlihat begitu berantakan dan matanya begitu kosong.

“Maaf jika aku belum memberimu nama,” Jongkook kembali melihat anak perempuannya sambil mengelus wajahnya perlahan. “Tapi, aku harap kau bisa menjadi anak yang baik,” Ia tersenyum bangga.

“Apakah dia seorang perempuan?” Perempuan yang duduk di depannya tiba-tiba bangun dan berbalik badan. Ia berjalan menuju kursi yang digunakan Jongkook dan lalu duduk di sampingnya. Kursi di bus itu adalah kursi yang cukup panjang dan bisa digunakan sekitar dua orang secara bersamaan. “Ya, tapi… aku belum memberikannya nama,”

“Anda bisa memikirkannya nanti… Tapi… kenapa anda sendiri? Bukankah seharusnya ada istri yang menemani anda?” Perempuan itu melihat dirinya dengan penuh kebingungan. “Kami baru saja bercerai… dan kenapa kau naik bis sendirian?”

“Maaf. Aku kabur dari keluargaku dan tak ada seseorang yang menemaniku,”

“Tak apa. Kita semua punya masalah, ‘ya?” Ia tersenyum kecil, lalu menghela nafas panjang. “Jika kita tak punya masalah, aku yakin, itu tanda bahwa kita akan segera mati. Tidak masalah untuk mempunyai masalah,” Ia tertawa kecil sambil mencoba untuk mengelus kepala anak perempuannya. “Aku boleh menyentuhnya ‘kan? Walaupun penampilanku berantakan seperti gelandangan, tubuhku… tanganku bersih!”

Pria itu tertawa mendengar alasan dan melihat tingkah laku perempuan itu. Ia begitu polos dan lugu, “Ya, silahkan. Tapi pelan-pelan saja,” Sambil melihat bahwa anaknya sedang di elus oleh perempuan itu, ia melihat pakaian yang sedang digunakan olehnya. Ia menggunakan sebuah jaket yang kebesaran dan dari modelnya, terlihat bahwa jaket itu untuk laki-laki.

“Kau mau kemana?”

“Entahlah. Aku belum menentukkan arahku. Mungkin, aku akan membiarkan kakiku untuk berjalan menuju tempat yang aku mau,”

 

+

 

Setelah perjalanan yang cukup panjang dari kota besar menuju sebuah kota kecil yang bernama Anyang, ia turun dari bis itu dan memulai perjalanan lagi dengan berjalan kaki menuju rumah kedua orangtuanya sambil menggendong anaknya dan menggendong sebuah tas di punggungnya.

Waktu yang telah berlalu cukup lama semenjak ia pergi ke kota besar untuk hidup bersama istrinya yang telah memberinya anak perempuan itu tak mengubah kota kecil itu secara signifikan. Tak banyak yang berubah dan bahkan keadaannya masih terasa begitu familiar. Banyak anak kecil yang sedang bermain di jalan-jalan kecil bersama teman-temannya, para ibu sedang berbicara dengan tetangganya, para penjual sedang melayani pembelinya di toko-toko pinggir jalan, dan terkadang kios-kios jalanan yang menjual makanan menyebarkan bau harum berbagai jajanan yang baru saja matang dan siap di jual.

Angin tidak bertiup begitu kencang dan udaranya juga tidak begitu panas, langit sedang agak berawan saat ia datang.

10 menit telah berlalu semenjak ia sampai di stasiun bus dan akhirnya, ia sampai di depan sebuah rumah yang bergaya tua. Rumah tersebut tak begitu luas dan besar. Pagarnya sendiri dibuat dengan tumpukan batu-bata yang menambah kesan sederhana dari rumah tersebut dan di sana juga terdapat sebuah papan nama yang terbuat dari kayu yang tergantung di pagarnya. Ia melihat papan nama itu dan membaca suatu kata yang terukir di sana. Papan nama yang bertuliskan ‘Kim’ itu ternyata masih agak baru dan berbeda saat ia pergi dulu, ia mengira bahwa kedua orangtuanya pasti mengganti papan nama yang lama karena kayunya sudah cukup lapuk dan tak lagi enak untuk di lihat.

Ia membuka pagar besi yang merupakan pintu masuk yang berada di antara susunan batu-bata itu. “Aku pulang!”

Pintu rumahnya itu kemudian terbuka secara cepat tepat setelah Jongkook berkata demikian. Wajah seorang wanita paruh baya yang sepertinya berada di umur 60-an menyapanya dengan senyum. “Oh, Jongkook-ah. Kenapa kau datang sendiri? Itu… Jangan bilang bahwa kau sudah…” Wanita itu segera menghampiri anaknya yang sedang menggendong anak perempuannya. “Ya, bu. Aku sekarang sudah memiliki anak, ia begitu cantik sepertimu,”

“Bolehkah Ibu menggendongnya?”

“Ya, tentu saja. Tapi, bu, lebih baik kita masuk. Ia tak boleh terkena udara luar terlalu lama,”

Ibunya mengangguk dan mempersilahkan anaknya untuk masuk ke dalam rumah. Bagian dalam rumah tersebut begitu rapi dan nyaman. Kesan sederhana dan tua tak menghilang di sana karena banyak sekali furnitur yang berasal dari jaman dahulu yang masih bagus disana. “Aku akan meletakkannya di kamarmu dulu, duduklah di ruang tamu. Ibu ingin berbicara banyak denganmu,”

Anak laki-laki itu kemudian duduk di sofa berwarna merah tua yang terasa agak keras di ruang tamu sambil menunggu Ibunya yang sedang mengurus cucu pertamanya. Tak lama setelah itu, Ibunya keluar dari kamar yang dulu merupakan kamar Jongkook dan langsung menuju sofa tersebut untuk duduk. “Jongkook-ah, aku tak akan mendesakmu untuk berbicara, tetapi dari wajahmu, kau sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku,”

“Bolehkah aku berkata sejujurnya?”

Ibunya mengangguk, “Aku… sudah tak lagi bersama Eunhye, bu. Kami sudah bercerai dan akulah yang memegang anakku sekarang,” Ia menundukkan kepalanya dan diikuti dengan sebuah tepukan lembut di pundaknya yang berasal dari Ibunya. “Tak apa, Jongkook-ah. Kami tahu bahwa hubunganmu dengan Eunhye pasti tak akan berjalan begitu lama, kami sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kabar ini,”

“Ibu dan Ayah tahu?”

“Ya, sejak kami melihatmu berubah saat kau menginginkan sekali untuk menjadikan Eunhye sebagai pendampingmu, kami sudah menduga pasti kau tak akan bisa mempertahankan hubunganmu. Lagipula, Eunhye dan dirimu sangatlah berbeda, nak,”

Wanita itu berhenti sejenak lalu melanjutkannya lagi, “Sifatmu yang pendiam dan selalu menahan amarah memang merupakan kebalikan dari Eunhye yang sangat aktif seperti wanita kota pada umumnya. Aku yakin, alasan yang diberikan oleh wanita itu adalah dia bosan denganmu,”

“Ibu, kau hebat sekali,” Jongkook tertawa pahit. Ia sedih mengetahui bahwa Ibunya sendiri bahkan sudah dapat memperkirakan bahwa ia akan bercerai suatu saat nanti dan bahkan alasannya pun sama dengan yang di lontarkan oleh Eunhye. “Tak apa, Jongkook. Itu bukan salahmu, kau tak perlu merasa bersalah karena kau memang tak bersalah. Kau adalah anak yang hebat dan aku yakin, kau bisa menjadi ayah yang hebat,”

Mendengar semua kata-katanya itu, ia merasa seakan bahwa ada banyak sekali beban yang di lemparkan padanya. Ia merasa bersalah tiba-tiba karena telah melawan nasehat orang tuanya dulu. Ia sangat bersikeras bahwa hubungannya dengan Eunhye akan berjalan dengan baik dan lancar, tapi ternyata semuanya berubah dari ekspetasinya. Ia malah tak bahagia sama sekali dan kehidupannya berada di bawah kontrol secara total dari istrinya itu. Kepindahannya dari Anyang membuatnya kehilangan banyak orang yang menjadi temannya serta pekerjaan kecil yang ia lakukan bersama Ibunya untuk menjual berbagai sayur-sayuran di pasar. Bahkan, pekerjaan sampingan yang sebentar lagi akan ia dapat sebagai seorang guru musik di sebuah taman kanak-kanak pun menghilang sia-sia karena pernikahan mereka. Satu-satunya hal yang ia lakukan untuk menghibur dirinya saat pernikahan dulu karena tawaran pekerjaan sebagai seorang guru musik menghilang adalah menjadi sukarelawan di sebuah panti jompo serta menghibur para orang tua dengan nyanyiannya.

Eunhye dan Jongkook bertemu karena di pertemukan oleh teman mereka. Mereka pertama kali bertemu di sebuah pesta ulang tahun milik anak dari teman mereka itu di sebuah panti asuhan. Lalu, cerita berlangsung seperti pasangan pada umumnya. Hanya saja, mereka tak menemui akhir yang bahagia selamanya seperti pasangan-pasangan lain walaupun telah diuji dengan berbagai macam kesulitan.

“Apa Ayah juga sependapat denganmu, bu?”

“Tentu saja. Tapi, aku yakin kau akan diomelinya dulu karena membantah kata-kata kami,” Ibunya tersenyum kecil.

 

+

 

Satu hari telah berlalu di rumah tersebut dan malam kembali datang untuk menutup hari kedua semenjak kedatangan Jongkook ke rumahnya kembali. Hari itu hujan deras turun secara tiba-tiba, padahal Jongkook sendiri belum membuang sampah ke tempat sampah yang ada di belakang rumahnya, tempat dimana sampah di kawasan itu dikumpulkan dan di ambil nanti.

Dengan berbekal sebuah payung di tangan kanan dan memegang sebuah plastik besar berisi sampah di tangan kiri, ia keluar dari rumahnya menuju tempat sampah yang berada di belakang rumahnya. Langkahnya di percepat juga karena hujan semakin deras. Ia melewati sebuah gang kecil yang ada di samping rumahnya untuk menuju bagian belakang.

Bagian belakang dari rumahnya sendiri merupakan sebuah kawasan pertokoan dimana ada tanah kecil yang berisi tong sampah besar untuk meletakkan sampah. Ia meletakkan sampahnya di sana lalu berjalan sebentar di kawasan itu. Kawasan pertokoan itu sudah sepi dan banyak toko yang telah tutup karena sudah waktunya untuk toko-toko tersebut tutup. Hujan yang deras memberi kesan suram dari tempat itu karena tidak banyak lampu jalan yang hidup di sana.

Tapi, kunjungannya ke tempat itu ternyata tidaklah semudah yang ia bayangkan. Tepat saat ia berbalik badan, ia melihat seorang perempuan sedang tertidur dengan kondisi yang sangat basah di depan toko yang tutup. Dari wajahnya, ia mengenal sekali wajah perempuan itu dan juga jaketnya yang kebesaran. Orang itu adalah perempuan yang dulu sempat menyapa dirinya dan anaknya di bus saat ia dalam perjalanan menuju Anyang.

+

 

“Oh, kau sudah bangun, nona?”

Kedua mata perempuan itu dikagetkan dengan kemunculan seorang pria bertubuh kekar yang membawa nampan berisi mangkuk putih. Ia juga menyadari bahwa ia tak berada di depan toko dengan keadaan basah kuyup lagi, ia sudah berada di suatu tempat dan tertidur dengan di lantai menggunakan sesuatu yang mirip seperti futon, lengkap dengan selimutnya. “Dimana ini?” Perempuan itu melihat baju yang sedang ia gunakan dan ternyata, baju itu berbeda dengan yang ia gunakan. “Kau…” Tangannya sudah mengepal, bersiap untuk melayangkan sebuah pukulan karena telah melakukan sesuatu yang tidak di perbolehkan.

“Tunggu, nona! Aku tak mengganti bajumu! Ibuku yang melakukannya kemarin malam. Aku hanya membawamu ke rumahku dan sisanya, aku membiarkan Ibuku untuk merawatmu,” Jongkook berjalan mendekati wanita itu dan meletakkan nampan yang ia bawa ke samping wanita itu. “Percayalah, aku tak akan melakukan hal seperti itu,” Ia menurunkan tangan perempuan itu dan membimbingnya menuju nampan telah ia letakkan di lantai.

“Makanlah dan jika kau sudah makan, kau boleh bermain bersama anak itu. Aku masih harus membantu Ibuku,” Pria itu meninggalkan perempuan itu sendirian di kamar.

Perempuan itu langsung melahap bubur yang diberada di dalam mangkuk itu. Ini merupakan pertama kalinya ia begitu menikmati makanan karena biasanya, ia selalu merasa bahwa makanan adalah hal biasa. “Bukankah pria itu, yang… waktu itu aku temui?” Ia melihat sekelilingnya dan menemukan sesuatu di atas ranjang kecil yang ada di sampingnya. Ia sengaja menghabiskan makanannya dengan cepat agar dapat bermain dengan anak yang tadi di sebut oleh pria itu.

Ya, perempuan itu menemukan anak perempuan yang sama yang di bawa oleh pria itu.

“Wah, kau beruntung sekali punya ayah yang baik dan kau begitu cantik,” Ia melihat ke arah bayi perempuan yang sedang tertidur itu. “Apa Ayahmu sudah memberi nama padamu?” Tangan lembut perempuan itu dengan hati-hati membelai lembut pipi bayi tersebut.

“Aku belum memberikannya nama,” Jongkook tiba-tiba muncul dari pintu dan mengagetkan perempuan itu.

“Bagaimana bisa seorang ayah membiarkan anaknya tanpa nama?”

“Tak ada ide, bahkan kedua orang tuaku belum menyiapkan nama yang tepat baginya. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

Perempuan itu mengangguk sambil melihat pria itu langsung di matanya yang terlihat seperti garis saat dari jauh. “Siapa namamu?”

“Cheon Seong Im, tapi aku lebih suka di panggil dengan Song Jihyo,”

“Kenapa kau punya dua nama?”

Perempuan itu diam sejenak, seakan mencoba untuk mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pria itu. Matanya menghindar dari tatapan pria itu juga. Ada perasaan takut bahwa ia akan di tertawakan olehnya jika ia menjawabnya. “Jawab saja,”

“…Mimpiku. Aku mempunyai mimpi agar aku di kenal oleh banyak orang dengan nama Song Jihyo,”

Jongkook terdiam mendengar jawaban itu. Jawaban itu terdengar begitu polos, seperti jawaban seorang anak kecil yang di tanya mengenai mimpinya. Ia menjawabnya tanpa ada penjelasan yang berbelit-belit, semuanya begitu sederhana dan mudah di mengerti. Sebenarnya jawaban seperti ini tak begitu di harapkannya, tetapi ia sudah mengira bahwa jawaban ini akan muncul dari mulutnya. Dari penampilannya yang sederhana dan cara berbicaranya yang polos, ia tahu bahwa perempuan ini tak seperti perempuan pada umumnya, ia punya cara berpikir yang unik.

 

+

 

“Kita mau kemana?” Perempuan yang dipanggil Jihyo oleh pria itu hanya bisa terdiam saat dia dibawa pergi olehnya dengan sebuah motor. “Ibuku menyuruhku untuk berbelanja beberapa keperluan untuk anakku dan aku mau menunjukkan sesuatu padamu,”

Jongkook mengendarai motor itu melalui berbagai jalan yang ia sudah lama tak lalui. Walaupun waktu sudah cukup lama sejak ia meninggalkan kota itu, ia kagum pada dirinya sendiri yang masih mengingat jalan-jalan yang ada di kota itu. Sepanjang jalan, banyak teman-teman ibunya yang menyapa dirinya dengan hangat. Di sisi lain, Jihyo yang duduk di belakangnya berpegangan dengan erat pada tubuh pria yang ada di depannya. Ia menikmati perjalanannya dan mengagumi betapa indahnya kebersamaan para penduduk kota itu yang masih mengenal satu sama lain.

Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk berbelanja, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan ke tempat yang sempat di katakan pria tersebut sebagai tempat yang dapat memotivasi dirinya. Sepanjang perjalanan menuju tempat kedua ini, mereka saling menceritakan kehidupan mereka masing-masing. Jongkook menceritakan bahwa ia baru saja bercerai dari pasangannya karena sudah tidak adanya lagi ketidakcocokan di antara mereka dan istrinya yang tak lagi bisa mengerti dirinya. Ia pulang kembali ke kota ini bersama anaknya karena sudah tak betah lagi untuk tinggal di kota besar yang penuh dengan kenangan pahit mengenai hidupnya.

Jihyo sendiri menceritakan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga kaya di Seoul yang hidupnya sangat diatur oleh kedua orangtuanya. Ia merasa bahwa semua hal yang orangtuanya lakukan padanya sudah sangat berlebihan karena ia tak bisa memilih sendiri masa depannya. Mereka merusak segala apapun yang menjadi jalur penghubung antara dirinya dan mimpinya. Ia kabur karena tak lagi tahan dengan kelakuan mereka yang semakin mengekang hidupnya.

Ia ingat bahwa ia baru saja memenangkan suatu perlombaan modelling dan dikontrak oleh sebuah agensi, tetapi ia menyadari setelah beberapa bulan masa pelatihan, ternyata semua hal itu berada di bawah campur tangan orangtuanya dan kontrak itu sebenarnya palsu, karena selama apapun ia dilatih, ia tak akan pernah dikeluarkan ke publik karena orangtuanya hanya menginginkan dirinya menjadi penerus perusahaan mereka.

Jihyo merasa bahwa kabur dan menghilang dari penglihatan orangtuanya dapat menjadi hal terakhir untuk membuka hati mereka agar tidak lagi menganggu privasi hidupnya dan ikut campur untuk mewujudkan masa depannya yang ia inginkan sendiri.

“Hidup itu penuh dengan atas dan bawah,” ujar Jihyo sambil menghela nafas dan mempererat pelukannya pada tubuh Jongkook yang berada di depannya. “Bagian atasnya adalah saat aku masih kecil, semua kemauanku dituruti oleh mereka. Bagian bawahnya adalah saat aku menyadari bahwa masa depanku tak bisa kupilih sendiri,”

“Aku tak mengerti, oppa. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dan mewujudkan mimpiku dengan tanganku sendiri,”

“Aku juga merasakan demikian, Jihyo. Aku pernah berada diatas, yaitu saat aku baru saja hidup bersama mantan istriku dan aku merasa begitu bahagia. Lalu aku jatuh menuju dasar, yaitu saat aku menyadari bahwa ia tak lagi mencintaiku,” Mereka saling berbagi pengalaman mereka yang ternyata sama. Mereka mengalami hidup di ‘atas’ dan hidup di ‘bawah’. Semua bagian itu harus mereka rasakan. “Kita tak sama-sama mengerti apa yang sebenarnya sedang kita pelajari dari hidup, Jihyo-ya. Atas dan bawah itu menurutku wajar, tapi terkadang… kita merasa bahwa hidup tak adil pada kita,”

“Apa yang bisa kita lakukan kalau begitu?”

“Entahlah… Aku belum berpikir sampai sejauh itu,”

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat saat mereka berbincang dalam perjalanan. Jongkook memberhentikan motornya di pinggir jalan yang berada di depan sebuah gedung sekolah. Jihyo sendiri melihat gedung itu dengan penuh kebingungan dan banyak pertanyaan mengapa ia harus di bawa ke tempat ini. “Ini sekolah ‘kan?” Jongkook mengangguk, “Ini salah satu sekolah yang paling terkenal di penjuru Anyang. Anak-anak di seluruh kota ini berharap agar bisa masuk ke sekolah ini. Bidang khususnya adalah seni dan kau harus tahu bahwa banyak alumni dari sekolah ini menjadi ‘mempunyai nama’ karena bidang yang ia pelajari,”

“Apa kau alumni sekolah ini juga?”

“Tidak, aku hanya masuk sekolah biasa,”

“Lalu kenapa kau membawaku ke tempat ini?”

“Agar kau termotivasi lagi untuk mewujudkan mimpimu. Saat aku melihat matamu di hari pertama kita bertemu di bus, kau terlihat begitu kosong… seakan-akan kau kehabisan harapanmu untuk hidup,” Pria itu menatap kedua mata perempuan itu dengan penuh harapan dan serius. Ia tak main-main kali ini, ia sangat ingin membantu perempuan itu untuk mewujudkan mimpinya. Jujur saja, pria ini begitu tersentuh mendengar latar belakang mengapa ia kabur sejauh ini dan hanya melihat dari kedua matanya, perempuan ini terlihat begitu polos dan sangat menginginkan agar mimpinya terkabul menjadi nyata.

“Kita berdua sama-sama berada di bawah saat ini, tetapi kau tetap mau membantuku?”

“Karena aku berharap kita bisa bersama-sama di atas nanti. Kau begitu jujur mengenai dirimu sendiri dan… dunia butuh lebih banyak orang sepertimu,”

“Terima kasih, oppa… Kau adalah orang pertama yang mendukungku dengan tulus…” Perempuan itu mencoba tersenyum agar ia tidak menangis karena terharu. Hatinya begitu tersentuh mendengar dukungan yang begitu tulus. Ia sering mendengar dukungan, tetapi semuanya terdengar begitu terpaksa dan hanya untuk formalitas, berbeda dengan ini. “Terima kasih. Aku harap kau juga bisa mencapai mimpimu nanti,”

 

+

 

Seminggu telah berlalu sejak kedatangan Jihyo di rumah teman sekaligus pendukungnya yang paling pertama, Kim Jongkook. Ia tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya ia tinggal di sebuah keluarga kecil di tempat yang jauh dari keramaian kota besar dan betapa ringan pikirannya yang selama ini penuh dengan beban, lalu beban itu menghilang begitu saja dengan keberadaannya di kota ini. Ia tak hanya belajar mengenai hidup melalui kata-kata Jongkook, tetapi juga belajar betapa kasih sayang orangtua begitu penting untuk mendukung kehidupan seorang anak dari orangtua Jongkook.

Ia melihat bahwa kedua orangtua pria tersebut memang sepertinya marah dengan kegagalan kehidupan rumah tangga anaknya itu, tetapi disisi lain, mereka mencoba untuk tidak sama sekali marah kepadanya karena ia tahu bahwa hal itu menjadi titik pertama dirinya untuk menjadi lebih dewasa.

Oppa,” ujar Jihyo sambil merapikan selimut dari anak perempuan Jongkook yang masih belum diberi nama.

“Hm?”

“Kau masih belum memikirkan nama untuknya?”

“Aku sudah memikirkan namanya, tetapi aku belum sempat membicarakan dengan orangtuaku,”

“Siapa namanya?” Jihyo terlihat begitu penasaran dengan nama anak perempuan itu. “Itu masih rahasia, Jihyo-ya,” Jongkook hanya tertawa kecil saat ia merusak ekspetasi Jihyo yang sudah ingin tahu nama dari anak perempuan itu. “Ya! Oppa! Kau kejam sekali!”

Panggilan ‘oppa’ dari Jihyo dan ‘Jihyo-ya’ dari Jongkook kepada masing-masing muncul secara sendirinya dan hal tersebut semakin mengakrabkan mereka tanpa berpikir bahwa ada perbedaan status dan latar belakang hidup yang begitu mencengangkan. Siapa kira seorang anak orang kaya bisa berteman dengan seorang laki-laki yang sudah bercerai dengan istrinya?

“Jihyo-ya!”

“Ada apa, bu?” Jihyo juga memanggil ibu dari Jongkook dengan panggilan ‘Ibu’ karena ia merasa bahwa ia di perlakukan dengan baik oleh ibunya dan bahkan memberikannya semangat seperti seorang ibu sesungguhnya. “Ada orang yang mencarimu di depan,” Jongkook dan Jihyo langsung bergegas ke depan rumah.

Tepat saat pria itu membuka pintu, ia menemukan sepasang orang dengan mobil di belakangnya sedang menunggu di depan pagar batu-bata. ‘Itu orangtuaku, oppa!’ Jihyo berbisik dengan keras sambil bersembunyi di belakang tubuh pria itu, tubuhnya cukup besar untuk menyembunyikan Jihyo yang kecil. “Boleh saya tahu, siapakah kalian?”

“Selamat siang, nak. Dari informasi yang kami dapat, anak kami yang bernama Cheon Seong Im berada di rumah ini. Ia kabur dari kediaman kami seminggu yang lalu,” Wanita yang terlihat berada di umur ibunya itu menjawab pertanyaannya dengan begitu lembut dan sopan, mirip sekali dengan ekspetasi Jongkook mengenai sifat wanita kaya. “Ia berada disini,” Jongkook berjalan sedikit lebih ke depan dan menunjukkan sedikit wajah Jihyo yang berdiri di belakangnya. “Seong Im-ah, kembalilah,” Wanita itu berjalan mendekati pagar besi yang berada di antara pagar batu-bata.

“Kembalilah pada kami. Tolonglah, nak. Kami berjanji tak akan lagi mencampuri keinginanmu, sungguh,” Wanita itu memohon dengan suara yang terdengar begitu sedih. ‘Kau harus kembali, Jihyo. Jadilah apa yang kau inginkan dengan bantuan mereka,’ Jongkook berbisik lembut pada perempuan di belakangnya.

Aku tak mau. Aku lebih menyukai tempat ini,

Ini bukan tempatmu. Kau tak akan bisa meraih mimpimu disini. Untuk apa kau bertahan lebih lama lagi disini?

‘Kau membantuku memahami hidup dan mencapai mimpiku. Tapi disisi lain, aku menyukai tempat ini,’

‘Tapi kau harus kembali kepada orang tuamu, Jihyo-ya!’

‘Aku… Oppa, apa kau tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendiri?’ Jihyo menatap pria itu dengan penuh ketakutan dan rasa cemas. Ia khawatir jika ia harus meninggalkan pria itu sendiri disaat ia sendiri juga sadar bahwa ia harus di khawatirkan. Belum ada jalan menuju masa depan yang jelas yang terlihat bagi mereka. ‘Aku akan lebih senang jika kau bisa melihatmu bisa mencapai mimpimu,’

Jongkook memeluk perempuan itu tiba-tiba, ia menepuk punggungnya seakan memberi kekuatan yang sudah lama tak di dapat oleh perempuan itu sejak lama. Sekali lagi, ia mendapat dukungan darinya. “Pulanglah, Jihyo-ya. Kau boleh kembali ke rumah ini kapanpun jika kau mau,” Ibu dari Jongkook tiba-tiba mendatanginya dari belakang.

Perempuan itu awalnya ragu, tapi ia perlahan mengerti apa yang mereka maksud diam-diam. Mereka menginginkan dirinya juga untuk melanjutkkan mimpinya. Tempat ini terlalu kecil untuk mimpinya, sehingga mereka harus mengembalikan dirinya kepada orangtuanya yang sudah pasti dapat membantunya. Pria itu berani melepaskannya karena ia tahu bahwa ia tidak punya hak untuk menahannya disini dan kedua orangtuanya sudah menyadari bahwa tak seharusnya lagi mereka mengekang anak mereka. Entahlah apa yang menyadarkan mereka, tetapi ketakutan Jihyo bahwa ia akan dikekang mereka lagi tak beralasan lagi.

“Terima kasih, oppa. Aku harap kau bisa menjadi ayah yang baik bagi anakmu itu… Oh ya, kuharap ia sudah punya nama saat aku berkunjung lagi,” Jihyo menghela nafas sambil mengenggam erat kedua tangan pria yang terasa begitu kokoh itu. “Aku janji, aku akan kembali saat aku sudah sukses nanti… sebagai Song Jihyo,”

“Tentu saja. Aku akan selalu menunggu saat itu,”

 

+

 

Tidak terasa bahwa lima tahun sudah berlalu sejak semua kejadian yang terasa begitu cepat itu. Perpisahan dirinya dengan wanita itu dan pertemuannya dengan seorang perempuan muda yang begitu bersemangat dengan mimpinya telah mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih baik. Ia tak lagi terkenang dengan masa lalunya yang pahit tentang perpisahan itu, tetapi hal itu berubah menjadi suatu kenangan untuk pelajarannya. Mereka berdua, baik Jongkook ataupun Eunhye sudah tak lagi berkomunikasi.

Sang malaikat kecil itu telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang begitu manis. Ia diberi nama Seong-Ah, nama itu selalu mengingatkannya dengan Cheon Seong Im yang selalu dipanggilnya sebagai Jihyo-ya.

Appa, kemarilah!” Jongkook bergegas menuju putri kecilnya yang sedang asik menonton televisi. Ia langsung bergegas dari dapur menuju ruang tengah. “Lihatlah itu,” Gadis kecil berambut hitam panjang itu menunjuk ke arah televisi dan dari layar itu, terpampang wajah seorang perempuan yang sudah sangat dekat dengannya. Perempuan itu benar-benar tumbuh mengikuti mimpinya, ia menjadi seorang aktris dengan nama Song Jihyo dan malam itu merupakan malam suatu penghargaan film yang cukup bergengsi dan ia memenangkan sebuah penghargaan.

“Ah, Jihyo! Ia menang lagi!” Jongkook terlihat begitu senang melihatnya memenangkan penghargaan itu. “Jihyo-unnie terlihat begitu cantik! Oh ya, appa, apa ia pernah berjanji untuk bertemu denganmu sebelumnya?” Seong-Ah melihat ayahnya dengan tatapan penuh harap. “Tentu saja, tapi itu sudah lama sekali,”

“Ia tadi menelepon rumah kita beberapa jam yang lalu! Ia berkata bahwa jika ia sempat, ia akan mendatangi kita malam ini! Sepertinya… Appa, kau adalah orang yang sering unnie sering sebut di media sebagai orang yang paling penting baginya,” Seong-Ah tertawa. Anak perempuan ini memang tergolong pandai diusianya yang baru lima tahun, Ia sering membaca berbagai hal mengenai perempuan yang menurutnya cukup digilai oleh ayahnya itu. Dalam jangka dua tahun, Jihyo tumbuh menjadi seorang aktris terkenal dan ia sering menyebut inisial ‘JK’ sebagai orang yang sangat berpengaruh baginya. Tak pernah terlewat padanya jika inisial itu ternyata namanya sendiri, Jongkook.

“Ah, tidak mungkin, nak! Hei, tidurlah sana. Itu sudah larut malam,”

Padahal jam itu baru saja menunjuk jam 10 malam.

Appa!”

 

+

 

“Maaf aku terlambat,”

“Aku kira kau tidak akan datang,”

“Aku sudah janji padamu ‘kan bahwa aku akan datang jika aku sudah sukses nanti,” Perempuan itu tersenyum. “Jongkook-oppa, apa kabarmu?” Ia mengulang pembicaraan itu dari awal.

“Aku baik-baik saja,”

Angin yang sudah cukup dingin di sana tak menghentikan niat perempuan itu untuk menemui teman sekaligus orang paling penting baginya. Janji kecilnya tak ia lupakan dan betul saja, saat mereka berpisah, mereka saling berada di bawah, tetapi saat mereka berpisah dan bertemu lagi, mereka sudah saling berdiri di titik tertinggi hidup mereka. Mencapai mimpi dan menjadi orang yang sudah di harapkan sejak lama adalah harapan mereka.

Jihyo melihat bahwa pria yang ia khawatirkan itu sudah menjadi orang yang paling hebat bagi dirinya dan keluarganya. Ia sudah mendapat kembali yang ia tinggalkan, pekerjaan yang sudah lama ia harapkan: seorang guru musik dan yang paling penting, keluarganya. Walaupun tidak bisa kembali dengan istrinya yang terdahulu itu, ia merasa sudah cukup bersama malaikat kecilnya yang selalu tahu membuatnya bahagia. “Unnie!”

Seorang anak perempuan kecil tiba-tiba keluar dari rumah dan menghampiri kedua orang itu. “Seong-Ah!” Jihyo menyambut anak itu dengan tangan terbuka dan memeluknya saat ia sampai di antara kedua tangannya. “Kau tahu, Seong-Ah terdengar seperti namaku, oppa,” kata Jihyo sambil tersenyum ke arah pria itu.

“Karena aku berharap ia tumbuh sepertimu, berjuang keras demi mencapai mimpinya,”

“Tentu saja,”

Seong-Ah menatap Jihyo tepat dimatanya. “Unnie, kapan aku boleh memanggilmu dengan ‘eomma’?”

Jongkook dan Jihyo hanya bisa terdiam sambil menahan tawa mereka untuk kepolosan anak itu.

“Entahlah, Aku belum berpikir sampai sejauh itu,” Jihyo mengingat kata-kata Jongkook yang masih menggantung saat ia bertanya apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi keadaan terburuk dalam hidup. “Appa!”

“Apa?”

“Kapan aku boleh memanggil Jihyo-unnie dengan ‘eomma’? Bukankah kau menyukainya?”

“Ah…” Pria itu hanya bisa mengalihkan pandangannya dari kedua perempuan itu. Ia salah tingkah dan bingung mau menjawab seperti apa. “Kau tahu, Seong-Ah… itu berarti ia memang menyukaiku!” Jihyo semakin membuatnya bingung dan salah tingkah. Baik Jihyo maupun Seong-Ah hanya bisa mentertawakan kecanggungan pria itu saat berbicara mengenai hal yang paling ia jaga. Ia terlihat begitu canggung dan bingung, tetapi tetap terlihat lucu.

Ya! Kalian ini!”

 

“Kalian tahu? Jika kalian mampu menghadapi bagian bawah dengan penuh keihklasan, maka bagian atas akan terasa begitu berharga,”

 

the end.

Advertisements

[FANFICTION WINNER #2] Kim Jong Kook’s Boring Birthday by Alwi Syahid

Standard

 

....

 

Title : Kim Jong Kook’s Boring Birthday

Author & Cover Art : @alwisyahid

Genre : Drama

Rating : General 

Length : Oneshoot

Main Cast :

– Kim Jong Kook

 

Support Cast :

-Yoon Eun Hye

-Running Man member (Yoo Jae Suk, Lee         Kwang Soo) *Selain mereka berdua hanya sebagai Cameo

-Kim Jong Kook’s family (Cameo)

-Family Outing member (Cameo)

-Group Turbo (Cameo)

-X-Man member (Cameo)

 

 

 

Kim Jong Kook’s Boring Birthday

 “Kriing…Kriing…Kriing…”

Alarm jam berbunyi sangat keras di samping kepala jong kook. Ia segera bangun dari tidurnya. Udara terasa begitu dingin pagi itu, “Bagaimana bisa di sini terasa begitu dingin?”. Jong Kook menoleh ke arah kalender di kamarnya dan memperhatikan tanda pengingat pada kalendernya itu. “Ini hari ulang tahunku? Tak ada satu pun pesan yang masuk ke Hand Phone-ku? Apa mereka terlalu lelah? Atau mungkin lupa?”

Dia mulai beranjak dari ranjangnya dan menoleh ke arah jendela, “Apa ini? hujan? Bahkan dunia tidak mengizinkanku lari pagi di hari ulang tahunku!” Jong Kook mulai merasa gusar. Sudah beberapa hari dia tidak melakukan syuting karena tragedi kapal Sewol, begitu pula hari ini. Ia bergegas ke kamar mandi dan tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah itu. Akhirnya ia duduk di depan TV dengan mengenakan celana training dan tanktop olah raga karena itu yang biasanya ia kenakan ketika lari pagi. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ia terpaksa duduk di depan TV. Jong Kook bahkan tak tahu chanel atau acara apa yang sedang ia tonton. Menonton TV di pagi hari adalah hal yang masih asing baginya. Ia mulai membuka twitter di Smart Phone-nya dan membaca tweet dari fans-fansnya, “Due to respect for Sewol Ferry Tragedy in South Korea, so today No Hashtag for Kim Jong Kook’s Birthday”

“Apakah aku ini orang yang paling sial di dunia?” keluh Jong Kook. Ia mencoba menelpon teman-temannya dari acara Running Man. Ia berpikir mungkin akan menyenang jika berkunjung ke rumah salah satu temannya. Ia menelpon Ji Hyo, Gary, Jaesuk, dan tak ada satu pun yang mengangkat teleponnya. Sampai akhirnya Kwang Soo menjawab panggilannya,

“Ada apa? Mengapa Hyung menelponku pagi-pagi begini?”

“Kwang Soo-ya, Di mana kau sekarang?”

“Aku sedang di rumah, memangnya kena…”

Jong Kook langsung memutus teleponnya, dan langsung melesat mengambil kemeja, jaket dan kunci mobil. Ia mengendarai mobilnya ke rumah Kwang Soo begitu mendengar bahwa ia ada di rumah. Sesampainya di sana Jong Kook langsung menyapa Kwang Soo “Kwang Soo-ya, untuk pertama kalinya aku begitu merindukanmu.”

“Ada apa denganmu Hyung, mengapa kau tampak begitu kacau?”

“Aku mengalami hari yang buruk, bahkan walau ini masih pagi.”

“Maaf Hyung, tapi aku harus pergi untuk pemotretan.”

“YA! Betapa teganya kau meninggalkanku sendiri! Setidaknya apa kau tau hari apa ini?”

“Ntahlah, aku tak pandai mengingat hari, cobalah untuk melakukan hal lain yang setidaknya tidak mengganggu, kau bisa pergi ke gym seperti yang biasa kau lakukan.”

Jong Kook kembali menaiki mobilnya dan terus menggerutu selama perjalanan, “Mengapa semua orang serasa menjauhiku? Setidaknya mengapa harus hari ini? Lagi pula apa yang ia katakan tadi, pergilah ke gym. Mana mungkin aku bisa pergi ke gym di hari sedingin ini. Sungguh menyebalkan.” Ia terus menggerutu hingga akhirnya ia sadar bahwa ia sedang memarkir mobilnya di depan sebuah fitness center. Ia menggunakan alat-alat untuk latihan beban secara bergantian. Ia mengangkat beban-beban berat itu dengan wajah yang murung. Bahkan ia terlalu kesal untuk merasakan beban-beban di sekitar ototnya

Tiba-tiba ada telepon masuk dari Yoon Eun Hye. Jong Kook merasa senang karena ada yang menelponnya sekaligus bertanya-tanya karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Lalu akhirnya ia mengangkat telponnya.

“Eun Hye-ya, sudah lama sekali kau tidak menelponku.”

“Ya begitulah, apa Oppa sedang sibuk? Aku ingin bertemu denganmu.”

“Tidak, aku sama sekali tidak sibuk. Di mana kita bisa bertemu?”

“Aku akan menunggumu di Cafe yang biasa.”

“Baiklah, sampai nanti.”

Jong Kook jadi merasa begitu bahagia. Ia berpikir untuk membelikan sesuatu untuk Eun Hye setidaknya karena ia sudah menjadi orang pertama yang mau menelpon di tengah hari ulang tahun yang membosankan itu. Jong Kook memarkir mobilnya di depan sebuah pusat perbelanjaan. Ada begitu banyak toko di sana, dia tak tahu apa yang harus ia beli. Akhirnya ia berusaha memilih 1 dari 3 toko yang ada di depannya.

“Toko kue, aku bisa belikan dia coklat atau kue kering untuk disimpan di rumahnya. Tapi bagaimana jika dia malah berkata, Apa kau mau membuatku gendut dengan semua kue ini?”

“Kalau begitu toko baju, ku yakin wanita suka dengan baju dan sejenisnya. Tapi bagaimana jika baju yang ku belikan terlalu besar? Dia bisa berkata, Mengapa baju ini begitu besar? Kau mendoakanku supaya jadi segendut ini?”

“Toko perhiasan, mungkin aku bisa belikan gelang, kalung, atau mungkin cincin(?)”

Jong Kook tiba-tiba terdiam dan memikirkan kembali apa yang baru diucapkannya.

“Mengapa aku berpikir sejauh itu? Bahkan kita hanya berteman. Ku yakin benda seperti itu terlalu mewah untuk Eun Hye.”

Lalu Jong Kook berbalik membelakangi toko perhiasan itu, namun tidak lama kemudian Jong Kook berbalik lagi menghadap toko itu.

  “Tapi kalau dipikir lagi kurasa semua wanita suka cincin. Sudahlah, lagi pula ini hanya sebagai tanda terima kasih.”

Akhirnya ia pergi ke cafe dengan sebuah cincin di saku kemejanya. Ketika ia sampai, Jong Kook langsung menyapa Eun Hye,

“Eun Hye-ya, aku merindukanmu”

“Aku juga. Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Aku menunggu di sini sudah cukup lama. Ku kira Oppa tidak bisa datang karena terlalu sibuk”

“Ah, tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak sibuk. Tadi aku hanya mampir dulu ke toko.”

Lalu Jong Kook mulai merogoh saku kemejanya untuk memperlihatkan cincin yang baru saja dibelinya. Namun, tiba-tiba Eun Hye berkata dengan nada serius,

“Oppa, aku ingin memberitahumu sesuatu.”

Jong Kook merasa setengah kaget dengan cara bicara Eun Hye. Lalu ia mulai bertanya dengan hati-hati.

“Oh ya, apa yang sebenarnya ingin kau beri tahu?”

“Oppa.. aku ingin… menikah.”

Jong Kook merasa kaget dengan apa yang ia dengar, dan coba mencerna kembali kata-kata Eun Hye.

“Eun Hye-ya, apa maksudmu? Kita kan baru bertemu setelah sekian lama. Kita bahkan belum pernah berpa…”

“Aku akan menikah… Dengan seorang pria, pria yang lain.”

Akhirnya Jong Kook benar-benar mengerti apa yang baru saja diucapkan Eun Hye. Diantara mereka berdua tidak ada yang bicara sama sekali. Suasana cafe menjadi begitu sunyi. Dan Jong Kook mulai memberanikan diri untuk bicara.

“Kalau begitu selamat! Aku harap pria yang beruntung itu bisa terus menemanimu.. dan hidup bahagia bersama bersamamu.. selamanya.”

Jong Kook sama sekali tidak pandai berbohong, senyum di wajahnya itu benar-benar terlihat terpaksa. Namun di saat seperti ini lah di mana air matanya tak ingin tersorot oleh Eun Hye. Ini adalah sesuatu yang sulit ditahan bahkan oleh ototnya yang besar sekalipun. Akhirnya ia menyampaikan salam perpisahannya dan bergegas ke mobil tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Ia takut jika ia menoleh, mungkin akan terasa sangat sakit. Sepanjang pejalanan pulang ia terus berpikir “Ini adalah ulang tahun yang paling buruk yang pernah aku alami”. Dia bahkan tak tahu apa ia sedang menangis atau tidak. Seluruh wajahnya terasa mati rasa dan kedinginan.

Tepat pukul 21.00 PM. Jong Kook sudah merasa cukup mengantuk. Ia ingin cepat tidur dan melupakan hari yang menyebalkan ini. Matanya tertutup rapat sambil memeluk guling di ranjangnya. Ia berusaha untuk menenangkan diri, Hingga akhirnya ia terlelap.

 

 

“Kriing..Kriing..Kriing..”

“Apa ini? Mengapa alarmnya menyala jam segini?”

Ketika ia sadar, ternyata itu adalah Ring Tone HP-nya. Seseorang yang tidak ia kenal menelpon. Ia sudah terlalu lelah untuk mengangkat telpon, namun dia tetap mengangkatnya dan sebelum Jong Kook selesai memberi salam tiba-tiba orang di telepon menyela,

“Ibumu ada bersama kami, jika kau ingin dia selamat datanglah ke tempat tinggal ibumu dan jangan panggil polisi!                                                                                                        Tolong !”

Suara penelpon itu begitu aneh dan melengking, Jong Kook langsung tahu bahwa orang itu menghirup helium dari balon gas untuk mengubah suaranya. Ia langsung mengetahuinya karena dia pernah melakukannya dalam salah satu misi di acara Running Man. Jong Kook sempat berpikir bahwa itu hanya iseng, namun setelah ia mendengar teriakan ibunya di akhir panggilan ia jadi khawatir. Terlebih lagi ibunya tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya hari ini.Jadi Jong Kook memutuskan untuk pergi ke rumah ibunya dengan mobilnya.

Ulang tahunnya bahkan sudah cukup buruk dan sekarang ia tak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya Jong Kook sampai di rumah ibunya. Rumah itu luas dan tampak begitu gelap. Tak ada satu pun lampu yang menyala di rumah itu. Dia memberanikan diri masuk ke rumah gelap itu dengan Hand Phone-nya sebagai penerangan sambil memanggil-manggil ibunya namun tentu saja tak ada jawaban. Entah mengapa saklar lampu pun tidak bisa dinyalakan Suasana terasa begitu mencekam.  Tiba-tiba Jong Kook melihat sedikit cahaya disertai suara sesuatu yang dibentur-benturkan dari salah satu lorong rumah itu. Kakinya terasa begitu kaku, namun dengan perlahan tapi pasti ia mendekati asal cahaya itu. Ini adalah hal yang belum pernah dialami Jong Kook sebelumnya, bahkan saat dia masih sering berkelahi saat sekolah dulu. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak.

“Kira-kira apa yang ada di balik sana? Apa mereka sedang menyiksa ibu? Ah, tidak mungkin. Mereka pasti sedang bosan dan mungkin sedang duduk-duduk dengan secangkir kopi di tangan mereka, atau mungkin bir.”

“Tring !”

Tiba-tiba Jong Kook melihat sesuatu seperti mading kecil dan dihiasi lampu-lampu di sekitarnya, menyala tepat dibelakangnya. Di mading itu tertempel foto keluarganya yang diambil beberapa tahun lalu.

“Tring !”

Foto yang lain terlihat menyala dari lorong di sampingnya. Kali ini fotonya saat masih bersama grup Turbo. Foto-foto lainnya terus menyala dari satu lorong ke lorong lainnya seperti sedang menuntunnya ke suatu tempat. Mulai dari fotonya bersama member acara X-Man, member Family Outing, Running Man, bahkan foto-foto keluarganya. Senyuman mulai terpasang di wajah Jong Kook. Dia berpikir, pasti mereka sedang mengadakan pesta kejutan untuknya .

Sampai akhirnya foto terakhir menuntunnya ke sebuah ruangan yang luas dan gelap, tiba-tiba lampu dari foto terakhir mati, begitu pula dengan foto-foto sebelumnya. Jong Kook mulai merasa panik,

“YA ! Mengapa di sini begitu gelap?”

“Kau cukup berani bisa sampai ke sini, Jong Kookie”

Dia mendengarnya lagi, suara pria di telepon yang mengubah suaranya dengan balon gas. Jong Kook berusaha mencari asal suara itu, namun ruangan itu begitu luas dan gelap. Jong Kook hanya perputar-putar di tempat tanpa tau apa yang ia lihat, dengar, atau rasakan. Dia mulai merasa khawatir.

Dan tiba-tiba lampu menyala dan ia menyadari bahwa ia sedang berdiri tepat membelakangi barisan keluarga, kerabat, dan teman-temannya. Semuanya berbaris dengan balon gas di tangan mereka dan bersama-sama menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara yang aneh dan lucu. Tentu saja, karena mereka bernyanyi setelah menghirup udara dari balon gas yang masing-masing pegang. Jong Kook merasa bingung dan perlahan mulai tersenyum dengan tawa kecil di wajahnya. Tanpa ia sadari ia mulai menitikan air mata. Dia tak pernah benar-benar tahu bahwa ia bisa tersentuh oleh kejutan seperti ini. Dan ini baru pembukaan pesta. Ia melakukan banyak hal dengan teman-teman dan keluarganya setelah itu. Mereka meniup lilin, makan kue, memainkan games, dan karaoke mini. Benar-benar seperti pesta untuk anak SD, hanya saja di sana terdapat beberapa gelas minuman beralkohol.         Jong Kook Jaesuk dan Haha bersama-sama menyanyikan lagu “Sarang Seurowo”. Dan dia benar-benar bahagia dengan hari ulang tahunnya yang membosankan itu.

 

~~Tamat~~

 

Untelled Story

Di Cafe

Jong Kook yang awalnya bahagia karena sudah dihubungi oleh Eun Hye, mendadak harus merasakan kepedihan yang amat mendalam setelah Eun Hye berkata bahwa ia akan segera menikahi pria lain. Jong Kook melangkahkan kaki keluar dari cafe itu dengan senyuman terpaksa. Eun Hye yang masih duduk di bangku cafe itu mulai bertanya-tanya,

“Apa aku berlebihan? Tak ku sangka reaksinya akan separah itu.”

“Kriing..Kriing..”

“Oh! Telepon dari Jaesuk oppa. Ada apa Oppa?”

“Eun Hye-Ya bisakah kau belikan perlengkapan pesta untuk nanti malam? Aku terlalu sibuk di sini.”

“Ya baiklah, tapi aku sedang..”

Tiba-tiba seorang pelayan cafe datang dan menawarkan minuman tambahan kepada Eun Hye. Pelayan itu segera pergi setelah Eun Hye menolak tambahan minum.

“Eun Hye-Ya, apa itu tadi? Apa kau sedang berada di restoran? Kau tidak mencoba bertemu dengan Jong Kook kan?”

“Oppa, aku tak sengaja menelponnya. Jadi, aku buat kesempatan ini untuk melengkapi kejutan nanti malam. Lagi pula bukankah mencurigakan jika aku menghubunginya dan tiba-tiba memutus teleponnya.”

“Aish, jika terjadi sesuatu dengan kejutan hari ini, itu semua adalah karena ulahmu !”

“Ya ya Oppa. Aku akan menutup teleponnya !”

Eunhye segera menutup teleponnya dan bangkit dari bangku cafe,

“Mengapa tadi aku harus menghubunginya ya? Heol..”

 

Di Pesta

Pesta kejutan terlaksana dengan sangat meriah. Di sela-sela acara, Jong Kook dan Eun Hye berbincang-bincang di beranda lantai 2. Suasana begitu tenang, walau Jong Kook agak kedinginan karena ia hanya mengenakan kemeja tipis.

“Oppa, apa yang kau pegang itu?”

“Minuman, seperti biasa.”

“Ku kira Oppa tidak bisa minum minuman beralkohol.”

“Ya aku hanya tidak menyukainya, tapi setidaknya aku tetap bisa meminumnya di hari ulang tahunku kan?”

“Jangan diminum! Alkohol bisa membuatmu dehidrasi, tidak baik untuk penyanyi bersuara tinggi sepertimu.”

“Ternyata kamu tahu cukup banyak tentang hal seperti ini.”

Ada sesuatu yang masih menggantung di benak Jong Kook. Dan dia berusaha untuk menanyakannya,

“Ngomong-ngomong, soal yang di cafe itu, apa itu benar?”

“Hah? Apa?”

“Kau tahu, soal pernikahan”

“Oh, maafkan aku soal itu. aku hanya berbohong. Apa aku sudah membuatmu resah?”

“Ah, tidak aku hanya penasaran. Lagi pula bukankah bagus jika ada seseorang yang bisa mendampingimu?”

“Bahkan Oppa bisa menjawab setenang itu. Lagi pula kapan kau mau memberikannya padaku?”

“Memberikan apa?”

“Cincin di sakumu, apa kau tidak berencana memberikannya padaku?”

“Bagaimana bisa kau tahu aku membelikanmu cincin?”

“Heol, hanya pria bodoh yang menaruh kotak cincin sebesar itu di saku kemeja yang tipis. Semua orang akan langsung sadar hanya dalam sekali lirik.”

Jong Kook tak tahu harus memberikannya dengan cara bagaimana, jadi dia hanya mengeluarkan kotak cincin itu dari dalam sakunya dan menyodorkannya langsung kepada Eun Hye.

“Kalau begitu ini cincin dariku, aku harap kau menyukainya.” Lalu Jong Kook melanjutkan,

“Tapi jangan salah paham! Aku memberikan ini kepadamu karena kau adalah satu-satunya orang yang dengan suka rela menelponku hari ini. Lagi pula kita kan sudah sangat lama tidak bertemu. Sebenarnya aku bisa saja membelikanmu kue kering atau ba…”

Tiba-tiba Eun Hye mencium pipi kiri Jong Kook, seraya berkata dengan lembut,

“Terima Kasih, Oppa.”

Tiba-tiba sekujur tubuh Jong Kook membeku, namun pipinya jadi memanas. Dia tak tahu apa harus berterima kasih karena ciuman singkat itu, atau harus membentaknya dengan lembut karena sudah menciumnya dengan tiba-tiba. Akhirnya Jong Kook hanya terdiam dan mereka berdiri berdampingan di beranda rumah itu ditemani oleh pemandangan malam. Semua terasa indah malam itu. Sekarang Jong Kook sudah tidak merasa kesepian, justru setiap orang yang di lihatnya di pesta itu tampak tersenyum, terlebih karena bekas lipstik yang menempel di pipi kirinya.

[FANFICTION WINNER #3] Men Are All Like That by Tia Senjaya

Standard

Men Are All Like That

 

Title   : Men Are All Like That

Length  : Oneshot

Genre   : Romance

Main Cast  : Kim Jongkook, Yoon Bora (Sistar)

Supporting Cast : Yoo Jaesuk, Kang Gary, Song Jihyo, Ha Donghoon, Lee Kwangsoo, Ji Sukjin

Author  : Tia Senjaya

Disclaimer : All Running Man member and the other casts are not mine, but the story is rightfully mine. Plagiarism is no allowed. ^^

 

***

 

Kubuka mataku pelan, kurasakan pusing masih bersisa di kepalaku. Semua yang semula kabur mulai jelas di pandanganku. Aku bisa melihat wajah semua orang yang memandangku panik. Apa yang terjadi sebenarnya?

 

“Bora-ya, kau tidak apa-apa?”

 

Eomma menghampiriku, mengenggam tanganku untuk memastikan aku sudah benar-benar tersadar. Appa meletakkan tangannya tepat di dahiku, lalu terdengar helaan nafas leganya.

 

“Aku tidak apa-apa,” kuperlihatkan senyumanku dan berusaha bangkit dari tempat tidur. Tapi kemudian ada tangan lain yang menahank untuk tetap berbaring. Aku mengalihkan pandanganku, aku bisa melihatnya terduduk di kursi tepat di samping tempat tidur. Memandangiku dengan tatapan yang belum pernah kulihat. Mungkinkah dia khawatir?

 

“Aku sudah menelpon dokter.”

 

Suara Aunty mulai kudengar, diikuti anggukan Eomma dan Appa. Aku hanya bisa memberinya tatapan menenangkan. Aku tak ingin membuat semua orang khawatir hanya karena aku. Yang kuingat terakhir kali adalah semuanya gelap saat aku mencoba beranjak dari meja makan, di tengah makan malam kami. Aku, Aunty, kedua mertuaku dan Jongkook-oppa.

 

“Bora-ya, apa yang terjadi? Kau pucat sekali?”

 

Eomma membelai rambutku pelan. Appa hanya mengangguk mengiyakan.

 

“Kau pasti terlalu sibuk kan?” Aunty melihatku galak. Aku bisa mengerti saat mendengar suaranya yang meninggi. Selalu seperti itu jika dia mengkhawatirkanku.

 

“Ah, tunggu!” Eomma memperlihatkan ekspresi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dia tersenyum saat kembali menggenggam tanganku lebih erat.

 

“Sepertinya kita tidak perlu dokter,” lanjut Eomma dengan senyuman misterius. Tapi aku sepertinya setuju dengan usul Eomma, karena aku yakin hanya membutuhkan waktu untuk istirahat saja sebelum kembali pulih.

 

“Bora sedang hamil.” Ucapnya kemudian.

 

APA?

 

Refleks mataku membulat, dan membuatku sukses terbatuk karena oksigen yang tiba-tiba memaksa memasuki tenggorokanku. Aku menoleh sekaligus meski mengembalikan pusing di kepalaku. Raut wajah Jongkook-oppa pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena mendengar kata-kata Eomma. Meski kemudian dia bisa kembali mengendalikan semuanya. Hamil?

 

“Ah, benarkah? Kenapa kau tidak bilang padaku?” Aunty malah ikut antusias mendengar ‘kehamilanku’. Dia mendekat, tersenyum seolah meminta maaf karena sudah meninggikan suaranya kali lalu.

 

Appa pun sama saja, dia mengangguk lalu menepuk pundak Jongkook-oppa keras sekali. “Kau melakukannya dengan baik.” Apakah itu ucapan selamat?

 

“Bora-ya, sudah berapa lama kalian menyembunyikannya dari kami?” Eomma lagi-lagi mendesakku dengan pertanyaan yang membuatku dalam posisi yang membingungkan.

 

“Iya. Kau mau memberi kejutan kan?” Aunty mulai tak bisa lagi menahan kegembiraanya. Aku hanya bisa tersenyum kecut sementara otakku berpikir keras untuk memberikan jawaban yang bisa menjelaskan situasiku yang sebenarnya.

 

“Kau benar Aunty. Kami ingin memberi kalian kejutan.”

 

Suara Jongkook-oppa membuat telingaku berdenging. Kenapa dia mengatakan hal itu?

 

***

 

“Selamat Hyung!”

 

Donghoon, orang pertama yang ditemuinya pagi ini. Dia tak hentinya tersenyum sejak memasuki ruang rapat. Lalu menyalami Jongkook dengan sekuat tenaga. Jongkook hanya menanggapinya dengan dingin. Jongkook tak habis pikir, bagaimana bisa kabar ‘kehamilan’ Bora menyebar begitu cepat.

 

“Aku tahu kenapa kau menyembunyikannya pada kami. Tunggu sampai Jaesuk-hyung datang. Dia pasti tidak akan menerima semua ini begitu saja,” Donghoon memperlihatkan smirknya.

 

Sekalipun ingin bersikap acuh Jongkook tak bisa benar-benar tenang. Bukan karena kemungkinan Jaesuk-hyung yang akan meledeknya habis-habisan, tapi karena pikirannya yang tak bisa lagi bekerja menemukan cara untuk menjelaskan semuanya. Ini hari Senin yang pastinya akan panjang, terlebih saat menghindari tatapan semua orang yang membuatnya tak nyaman. Setidaknya itu yang dirasakannya saat ini. Rapat tak pernah setidak menyenangkan ini.

 

“Selamat, hyung!”

 

Kwangsoo menepuk pundaknya keras sekali saat keluar ruang rapat, Jongkook hanya bisa tersenyum sangat singkat mengingat ini pasti bukan tentang presentasinya yang cukup berhasil. Dan Kwangsoo sepertinya tak berminat untuk menginterogasinya saat Sukjin-hyung dengan segera mengajaknya pergi. Jongkook melihat mereka berjalan tergesa sepertinya memang ada rapat lain. Langkahnya pun segera menyusul keduanya yang kini sudah menghilang di lift. Berbelok ke kanan di ujung koridor agar bisa segera kembali ke ruangan kerjanya. Tapi ada seseorang yang sangat berniat menganggunya.

 

BUG!

 

Kepalan tangan yang tak lebih besar dari Donghoon mendarat tepat di dada kirinya. Keras, meski tak sampai membuat Jongkook meringis. Jaesuk-hyung.

 

“Dasar kau! Kenapa tidak memberitahuku?”

 

“Apa?” Jongkook pura-pura tak mengerti pembicaraan mereka.

 

Jaesuk tertawa sampai keduanya masuk ke ruangan Jongkook yang bergaya minimalis. Jongkook sengaja membiarkan sahabatnya itu tertawa sepuasnya, sampai kemudian Jaesuk memandangnya serius.

 

“Kau tidak memaksanya, kan? Kalian tidak …” Jaesuk menggantung kata-katanya, memperagakan gerakan tangan yang tak ingin lagi dilihat Jongkook.

 

Mau atau tidak Jongkook bereaksi jika tidak ingin semuanya semakin kacau. Dalam keadaan seperti ini berkata jujur akan jauh lebih baik. Setidaknya Jaesuk selalu punya ide yang brillian sejauh ini, yang seringkali membantunya keluar dari keadaan yang sulit.

 

“Tidak! Tentu saja tidak! Kami..Aku dan Bora tidak…”

 

“Kim Jongkook-hyung, congratulation!”

 

Kata-kata Jongkook terputus lagi oleh suara lain yang masuk dalam pembicaraan mereka. Gary, dengan senyum mengembang mendekati Jongkook, menjabat tangannya dengan kekuatan penuh. Jongkook menghela nafas, menyadari bahwa Gary orang selanjutnya yang akan memberinya selamat paling tidak.

 

“Aku tahu akhirnya kau akan mencintainya,” Gary berseri-seri seolah dia sendiri yang mendapat kabar baik. Meski sedetik kemudian wajahnya memelas, “Jihyo selalu berkata bahwa kau akhirnya akan menyerah pada istrimu, meski aku tak pernah yakin. Tapi sekarang Bora hamil! Selamat sekali lagi.”

 

“Jadi cinta ya?” tanya Jaesuk lebih pada dirinya sendiri, kata cinta itu seolah jauh dari jangkauannya yang akhirnya mengatakan hal yang membuatnya kaget sendiri, “Kupikir kau melakukannya tanpa ‘cinta’ yang seperti itu.”

 

“Yoo Jaesuk-sshi, KAU!” Jongkook bersiap meninju Jaesuk, kalau saja tidak ada ketukan pelan di pintu. Dan karenanya Jaesuk meninggalkan ruangan Jongkook dengan tergesa, pekerjaan luar lapangannya menanti.

 

“Gary-ah, bagaimana pekerjaanmu?” Jongkook mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan topik biasa.

 

Gary tersenyum dan menggeleng,”bukan aku yang menjadi topik hari ini, apalagi pekerjaanku tapi kau . Kau mengejutkan kami dengan pernikahanmu yang tiba-tiba itu, dan sekarang kejutan lain sudah kau berikan. Tidakkah kau berpikir memberitahu kami semua dengan sedikit elegan?”

 

“Ini semua tak pernah terbayangkan olehku,” jawab Jongkook ragu. Cinta itu apakah benar-benar ada? Setahunya baik dirinya atau Bora tak pernah benar-benar mengenal satu sama lain, berbicara serius tentang pernikahan mereka atau semacamnya.

 

“Bahkan kau tak pernah sadar sudah jatuh cinta padanya kan?” Gary semakin menggelengkan kepalanya. “Harusnya aku memberitahumu sejak lama. Maksudku menyadarkanmu, hyung.”

 

“Tentang apa?” Jongkook mulai tertarik.

 

“Bora. Tidakkah kau merasa bahwa dia lebih memperhatikanmu? Ah kenapa aku jadi bergosip,” Gary menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Jihyo melarangnya dengan keras membicarakan hal ini dengan Jongkook, tapi menurutnya sekarang akan baik-baik saja. “Kurasa dia mulai menyukaimu, melihat perkembangan kalian yang begitu cepat, aku bisa menebak Bora punya sesuatu yang bisa mengalihkan semua perhatianmu padanya.”

 

“Jihyo yang bilang begitu?” tebak Jongkook. Karena cuma Jihyo yang membuat Gary menjadi supersensitif seperti ini.

 

“Tapi aku setuju dengannya.”  Gary menepuk pundak Jongkook sekal lagi, sebelum meninggalkan ruangan kerja Jongkook.

 

Kepalanya lebih penuh daripada saat mempersiapkan presentasi tadi pagi, sedikit banyak kata-kata Gary membuatnya berpikir tentang Bora. Pernikahan mereka. ‘Kehamilan’ yang sama sekali tak pernah direncanakannya. Rasanya sulit untuk menguaraikannya satu per satu.

 

***

 

“Sudah kubilang, kau berbaring saja.”

 

Jihyo memaksa Bora untuk tidak turun dari tempat tidur. Bora hanya bisa menuruti kata-kata Jihyo. Kepalanya memang masih agak pusing setibanya di rumah. Meski Eomma memaksanya untuk ke rumah sakit saja, Bora bersikeras akan baik-baik saja jika pulang ke apartementnya. Lagipula Jihyo menawarkan diri untuk menemaninya seharian ini. Memberinya beberapa ramuan herbal untuk kembali memulihkan kesehatannya.

 

“Baiklah. Tapi Eonni,,,”

 

Jihyo menghentikan langkahnya, berbalik dan memilih duduk di sisi tempat tidur Bora. Mereka memang belum lama saling mengenal, sejak pertemuan mereka pertama kali di pesta pertunangan Jihyo, dan Bora sudah berstatus sebagai istri Jongkook. Secara tak sengaja mereka sering bertemu di tempat Bora mengajar, yang ternyata Jihyo juga termasuk relawan di sekolah musik itu.

 

Jihyo menatap Bora, yang sebenarnya masih merasa kesal. Bagaimana mungkin Bora tidak memberitahukan kehamilannya? Padahal beberapa hari ini mereka punya project bersama, yang membuat mereka sibuk, tapi tak pernah sedikitpun Bora mengeluh tentang kehamilannya.

 

“Kau harus istirahat, Bora-ya,” ujar Jihyo lembut, “Mungkin karena akhir-akhir ini kau terlalu kecapean, dan aku masih tidak mengerti kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sedang hamil? Aku tidak akan memaksamu untuk sering-sering berpikir terlalu berat.”

 

Bora menggeleng,”Aku tidak apa-apa.”

 

“Kau sudah mengatakannya berulang kali, aku akan memastikan kau benar-benar istirahat. Jangan sampai bayimu juga…”

 

“Aku tidak hamil,” ujar Bora tenang.

 

“Aku tahu kau akan merasa begitu di awal kehamilan, selanjutnya kau akan…..”

 

“Tidak Eonni! Aku benar-benar tidak hamil!”

 

***

 

“Kau sedang apa?”

 

Gerakan Bora terhenti seketika, memandang wajah tak asing yang berdiri tepat di hadapannya. Lalu kembali fokus pada secangkir teh yang hampir selesai dibuatnya.

 

“Membuatkanmu segelas jus.”

 

Tanpa melihat langsung ke arah Jongkook, tangan Bora dengan cekatan meraih gelas kaca di ujung  meja dan dalam lima menit segelas jus kiwi sudah dia hidangkan tepat di hadapan Jongkook.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Jongkook dengan suara pelan.

 

“Jangan khawatir, aku akan memberitahu orang tuamu tentang keadaanku dan meminta maaf karena kita sudah membohongi mereka,” jawab Bora singkat.

 

Bora memilih menghindari Jongkook sekarang. Dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Rasa pusingnya suda berkurang meskipun dia harus berhati-hati saat melangkahkan kakinya. Tapi tangan Jongkook menahan lengannya.

 

“Aku mengkhawatirkanmu,” Jongkook melihat kearah Bora yang masih berwajah pucat. Dalam hatinya seperti ada gemuruh. Dadanya terasa sesak, mengingat selama ini dia tak pernah memperlakukan Bora sebagaimana seorang suami pada istrinya. Perasaan ini, apakah seperti yang dikatakan Gary padanya? Seperti ada yang mengendalikan alam bawah sadarnya, Jongkook menghampiri Bora yang mulai tak bisa menahan tubuhnya. Jongkook merengkuh tubuh istrinya di saat yang tepat, memeluknya erat.

 

“Aku baik-baik saja,” masih bisa didengarnya suara Bora yang berbisik pelan tepat di telinganya. Meski tubuhnya berontak, Jongkook enggan melepaskannya. Jongkook mulai merasakan jantungnya berdetak cepat. Perasaan ini bukan sekedar perasaan bersalah karena sikap tak acuhnya pada Bora selama pernikahan mereka, tapi karena Jongkook tak ingin kehilangan wanita ini. Wanita yang selama ini selalu disampingnya. Memperlakukannya selayaknya seorang suami, dan sekarang hendak menanggung kesalahannya sendirian. Tidak. Jongkook tidak akan membiarkan istrinya lebih menderita.

 

“Bora-ya. Maafkan aku. Aku tidak ingin kehilanganmu.”

 

***

 

[WINNER ANNOUNCEMENT] KJK Indonesia Presents: Fanfiction Contest!

Standard

Annyeonghaseyo~~

 

Demi merayakan ulang tahun Kim Jong Kook yang ke 38, KJK Indonesia mengadakan lomba fanfiction sebagai event. o(^^)o

 

Hadiah-hadiah pemenang adalah sebagai berikut:

Juara 1: Merchandise original Kim Jong Kook yang berupa sebuah clearfile
Juara 2: Lightstick original merchandise KJK Indonesia + Pulsa sebanyak Rp. 10.000
Juara 3: Light stick original merchandise KJK Indonesia

 

Para kontestan adalah:

1. Sherafina Maya (@sherafina_maya)

2. Aufa Putri (@AufaPS)

3. Lionissa Ratnawati (???)

4. Alwi Syahid (@alwisyahid)

5. Vella Sang Bum (@velchanteo)

6. Jennifer Natashia (@JennatOfficial)

7. Tia Senjaya (@tiasenjaya)

8. Angels Virg (???)

 

Penjurian dilaksakan oleh Admin J dan Admin Me, selaku CEO dan President KJK Indonesia, yang berpengalaman dalam bidang editorial dan juga sastra.

 

Skor hasil penilaian adalah sebagai berikut (penulisan dan cerita masing masing /50) :

 

1. Sherafina Maya (@sherafina_maya) (45 pts) (42 pts) = 87

2. Aufa Putri (@AufaPS) (43 pts) (44 pts) = 87

3. Lionissa Ratnawati (???) (46 pts) (45 pts) = 91

4. Alwi Syahid (@alwisyahid) (45 pts) (45 pts) = 90

5. Vella Sang Bum (@velchanteo) (41 pts) (40 pts) = 81

6. Jennifer Natashia (@JennatOfficial) (41 pts) (41 pts) = 82

7. Tia Senjaya (@tiasenjaya) (44 pts) (44 pts) = 88

8. Angels Virg (???) (42 pts) (40 pts) = 82

 

Berdasarkan penilaian dan perhitungan rata-rata, maka kami umumkan pemenangnya adalah:

 

Juara 1: Lionissa Ratnawati 

Juara 2: Alwi Syahid

Juara 3: Tia Senjaya

 

Selamat kepada para pemenang! ^^ Kami akan mengirimkan e-mail kepada para pemenang dan diharapkan responnya maksimal satu minggu. ^^

 

Fanfiction akan kami upload segera mungkin agar dapat dinikmati oleh para fans. ^^